Home / Article

4 Kunci Treasury Management Selamatkan Kas Perusahaan.

Tugas Treasury Management: Lebih dari Sekadar Kelola Kas

4.9/5 - (32 votes)

Bayangkan sebuah perusahaan yang penjualannya terus tumbuh, order tidak pernah sepi, tapi tiba-tiba gagal membayar supplier karena kas kosong. Situasi seperti ini bukan rekaan — ini terjadi pada banyak bisnis yang mengabaikan pengelolaan keuangan secara sistematis. Dan ironisnya, kondisi seperti itu bisa terjadi meski di atas kertas perusahaan terlihat profitable.

Di sinilah peran Treasury Management menjadi tidak bisa diabaikan.

Treasury Management bukan sekadar urusan siapa yang “pegang dompet” perusahaan. Lebih dari itu, ia adalah fungsi strategis yang menentukan apakah roda bisnis bisa terus berputar — atau terpaksa berhenti di tengah jalan. Sayangnya, di banyak perusahaan, fungsi ini sering baru diperhatikan setelah masalah muncul. Padahal, justru saat semuanya masih berjalan baik-lah sistem ini seharusnya dibangun dan dikuatkan.

 

Apa Itu Treasury Management?

Secara umum, Treasury Management dapat diartikan sebagai fungsi yang dijalankan oleh seseorang atau kelompok yang ditempatkan dalam sebuah perusahaan, dengan tanggung jawab utama menjaga kondisi likuiditas perusahaan tersebut.

Tugas mereka bukan hanya memastikan ada uang di rekening hari ini — tapi memastikan uang itu ada di tempat yang benar, pada waktu yang tepat, dan dalam jumlah yang cukup untuk mendukung seluruh kegiatan operasional. Ini yang sering orang salah kaprah: treasury bukan soal banyaknya uang, tapi soal tersedianya uang saat paling dibutuhkan.

Mereka harus memastikan kondisi keuangan sebuah perusahaan untuk menjalankan operasionalnya, apakah mampu atau tidak. Jika mampu, tugas treasury management bisa berjalan lebih ringan — perencanaan bisa dilakukan dengan lebih tenang, tidak dalam tekanan. Namun jika diperkirakan perusahaan tidak mampu memenuhi kebutuhan kasnya, mereka harus bergerak cepat mencari solusinya. Dan solusi itu tentu tidak bisa diputuskan sepihak — perlu dirundingkan terlebih dahulu dengan jajaran manajemen perusahaan dan pemilik modal.

Ini yang membedakan treasury management dari fungsi akuntansi biasa. Akuntansi mencatat apa yang sudah terjadi. Treasury memastikan apa yang akan terjadi bisa ditangani dengan baik.

 

Empat Tugas Utama Treasury Management

1. Mengelola Modal Kerja (Working Capital Management)

Modal kerja adalah napas harian perusahaan. Tanpanya, operasional sehari-hari — membayar gaji, membeli bahan baku, memenuhi kewajiban ke pemasok — tidak bisa berjalan. Karena itulah, pengelolaan modal kerja menjadi tugas pertama dan paling mendasar dalam treasury management.

Perlu dipahami bahwa modal kerja merupakan kunci dari peramalan kas dalam sebuah perusahaan. Dan modal kerja bukan angka statis — ia berubah mengikuti siklus bisnis. Naik saat penjualan tinggi dan piutang dagang menumpuk; turun saat permintaan melambat dan persediaan menipis. Tim treasury harus bisa membaca pergerakan ini dan mengantisipasinya, bukan hanya bereaksi setelah masalah muncul.

Pengelolaan modal kerja dapat dilakukan dengan melibatkan perubahan tingkat aktiva lancar sebagai respons atas pencapaian penjualan produk sebuah perusahaan. Artinya, ketika penjualan sedang tinggi dan piutang dagang menumpuk, tim treasury perlu memastikan konversi piutang ke kas bisa berjalan lancar. Sebaliknya, saat penjualan melambat, pengeluaran untuk persediaan perlu dikontrol lebih ketat agar kas tidak terkuras.

Ada tiga komponen utama yang selalu diperhatikan dalam working capital management: persediaan (inventory), piutang dagang (accounts receivable), dan utang dagang (accounts payable). Ketiganya harus dikelola secara bersamaan karena saling memengaruhi satu sama lain. Memperlambat pembayaran ke supplier tanpa komunikasi yang baik bisa merusak hubungan bisnis jangka panjang. Mempercepat penagihan piutang tanpa pendekatan yang bijak bisa membuat pelanggan pindah ke kompetitor. Selalu ada trade-off, dan tim treasury yang baik tahu kapan harus mengoptimalkan mana.

2. Mengelola Kas (Cash Management)

Kalau modal kerja adalah napas, maka kas adalah detak jantung perusahaan. Cash management dilakukan dengan cara menggabungkan informasi dalam perkiraan kas dan pengelolaan modal kerja. Tujuannya jelas: menjamin tersedianya dana yang mencukupi untuk kebutuhan kegiatan operasional sebuah perusahaan setiap saat.

Dalam praktiknya, cash management mencakup aktivitas yang cukup teknis. Tim treasury harus membuat cash flow forecast — proyeksi arus kas untuk minggu, bulan, bahkan kuartal ke depan. Proyeksi ini menjadi dasar pengambilan keputusan: kapan perlu menarik fasilitas kredit, kapan aman untuk melakukan pembayaran besar, dan kapan ada surplus yang bisa dioptimalkan.

Salah satu tantangan terbesar dalam cash management adalah soal timing. Perusahaan bisa memiliki banyak aset di atas kertas, tapi kalau aset tersebut tidak likuid — atau tidak terkonversi menjadi kas pada saat yang tepat — tetap saja perusahaan bisa kesulitan memenuhi kewajiban jangka pendek. Inilah yang sering disebut “cash flow problem”: bukan soal profit, tapi soal timing.

Untuk perusahaan yang memiliki beberapa rekening di berbagai bank, cash management juga mencakup optimasi saldo antar rekening. Jangan sampai satu rekening kosong sementara rekening lain kelebihan saldo — efisiensi yang terlihat sepele ini, jika dikelola dengan baik, bisa berdampak nyata pada biaya operasional dan pendapatan bunga jangka panjang.

3. Mengelola Investasi (Investment Management)

Tidak semua perusahaan selalu berada dalam kondisi kekurangan dana. Ada kalanya — biasanya di akhir kuartal atau menjelang periode tertentu — perusahaan justru memiliki kelebihan kas yang cukup signifikan. Di sinilah tugas treasury management berikutnya masuk: memastikan dana lebih itu tidak hanya “menganggur” di rekening biasa, tapi diinvestasikan secara produktif.

Pada saat perusahaan mengalami kelebihan dana dalam kasnya, dana tersebut harus diinvestasikan dengan benar dan tepat sasaran. Tujuannya sederhana: agar hasil dari investasi tersebut dapat bermanfaat bagi perusahaan.

Namun menginvestasikan dana perusahaan bukan perkara sembarangan. Ada tiga faktor yang wajib diperhatikan secara bersamaan:

Faktor Penjelasan
Tingkat pengembalian maksimal Dana harus ditempatkan pada instrumen yang memberikan imbal hasil optimal sesuai dengan profil risiko perusahaan
Kecocokan jatuh tempo Tanggal jatuh tempo investasi harus selaras dengan proyeksi kebutuhan kas — agar dana tersedia tepat saat dibutuhkan, bukan terlambat
Hindari risiko tinggi Dana perusahaan tidak boleh diinvestasikan pada instrumen spekulatif yang bisa mengancam kelangsungan operasional

Ketiga faktor ini harus dipertimbangkan secara bersamaan, bukan satu per satu. Sebuah instrumen yang menawarkan return tinggi tapi jatuh temponya tidak sesuai kebutuhan kas tetap bukan pilihan yang tepat. Begitu pula investasi yang sangat aman tapi returnnya sangat rendah — perlu dikaji apakah masih relevan atau ada alternatif yang lebih optimal.

Instrumen yang umum digunakan antara lain deposito berjangka, Surat Berharga Negara (SBN), obligasi korporasi berperingkat baik, dan reksa dana pasar uang. Pilihan bergantung pada tenor kebutuhan, profil risiko perusahaan, dan kebijakan investasi yang sudah disepakati oleh manajemen.

4. Penggalangan Dana (Fund Raising)

Penggalangan dana adalah tugas treasury management yang paling bersentuhan langsung dengan pihak eksternal. Ketika perusahaan membutuhkan tambahan modal — baik untuk ekspansi, menambal kekurangan kas jangka pendek, atau mendanai proyek besar — tim treasury yang memegang kendali sebagai “pencari” dana.

Dana dapat digalang dari broker atau bankir investasi, hingga para investor dengan menanamkan modalnya. Dengan penggalangan dana tersebut, perusahaan dapat melakukan manajemen terkait pengelolaan dana yang dimilikinya secara lebih optimal. Oleh karena itu, tugas Treasury Management dalam mengelola kondisi keuangan sebuah perusahaan memang sangat vital.

Fund raising bisa berbentuk macam-macam: pinjaman perbankan (kredit modal kerja atau kredit investasi), penerbitan obligasi di pasar modal, rights issue saham, sukuk, hingga pinjaman antar perusahaan dalam satu grup. Setiap bentuk punya konsekuensi berbeda — soal biaya, tenor, persyaratan, dan dampak terhadap struktur permodalan perusahaan secara keseluruhan.

Di sinilah kemampuan negosiasi dan jaringan relasi tim treasury sangat diuji. Membangun hubungan yang baik dengan perbankan dan investor bukan hanya berguna saat sedang butuh dana — hubungan yang solid justru memberikan akses ke kondisi pembiayaan yang lebih baik, bahkan sebelum perusahaan benar-benar memerlukannya.

Baca juga : 3 Hal Penting di Dunia Treasury Management

Ringkasan Empat Tugas Treasury Management

Tugas Tujuan Utama Aktivitas Kunci Dampak jika Diabaikan
Working Capital Management Menjaga kelancaran operasional harian Kelola persediaan, piutang, utang dagang Operasional terganggu meski aset banyak
Cash Management Memastikan likuiditas tersedia tepat waktu Proyeksi arus kas, optimasi saldo rekening Gagal bayar kewajiban jangka pendek
Investment Management Mengoptimalkan dana yang tidak terpakai Deposito, SBN, reksa dana pasar uang Dana tidak produktif, kehilangan potensi return
Fund Raising Menyediakan modal saat dibutuhkan Pinjaman bank, penerbitan obligasi, investor Keterlambatan ekspansi, proyek tertunda

 

Yang Membuat Treasury Management Bisa Bekerja dengan Baik

Keempat tugas di atas hanya bisa dijalankan dengan efektif jika ada beberapa kondisi pendukung yang terpenuhi. Bukan soal teori — ini soal praktik nyata di lapangan.

Komunikasi dengan manajemen tidak boleh terputus. Seorang treasury manager yang bekerja dalam silo — hanya tahu angka-angka tanpa memahami arah bisnis secara keseluruhan — akan selalu ketinggalan informasi penting. Kapan perusahaan berencana ekspansi? Apakah ada akuisisi yang sedang dijajaki? Informasi strategis ini menentukan bagaimana treasury merencanakan likuiditas ke depan. Tanpa koordinasi yang baik, perencanaan kas hanya jadi ilusi.

Akurasi data adalah segalanya. Proyeksi kas yang salah karena data penjualan atau piutang yang tidak akurat bisa membawa keputusan yang fatal. Tim treasury bergantung pada kualitas data dari divisi-divisi lain — finance, sales, procurement. Kalau sumber datanya bermasalah, analisisnya pun akan bermasalah.

Teknologi bukan lagi pilihan. Sistem Treasury Management (TMS) modern memungkinkan visibilitas real-time terhadap posisi kas di semua rekening, otomasi proyeksi arus kas, dan pelaporan yang lebih cepat. Perusahaan yang masih mengelola treasury hanya dengan spreadsheet Excel akan semakin sulit bersaing dalam hal kecepatan dan presisi pengambilan keputusan — terutama di saat kondisi pasar bergerak cepat.

Baca juga : Treasury Management System di Perbankan

Indikator Kinerja Treasury yang Perlu Dipantau

Keberhasilan treasury management tidak bisa hanya dirasakan — harus bisa diukur. Berikut beberapa KPI yang umum digunakan:

KPI Definisi Target Ideal
Cash Conversion Cycle (CCC) Berapa hari dibutuhkan untuk mengkonversi investasi dalam persediaan menjadi arus kas Semakin pendek semakin baik
Current Ratio Rasio aset lancar terhadap kewajiban lancar Di atas 1,5× (bervariasi per industri)
Days Sales Outstanding (DSO) Rata-rata waktu penagihan piutang dagang Sesuai credit term yang disepakati dengan pelanggan
Days Payable Outstanding (DPO) Rata-rata waktu pembayaran ke supplier Optimalkan tanpa merusak hubungan dagang
Investment Return Imbal hasil dari penempatan dana idle Melebihi biaya bunga atau cost of fund perusahaan
Debt Service Coverage Ratio Kemampuan membayar cicilan utang dari arus kas operasional Minimal 1,25×

Angka-angka ini tidak berdiri sendiri — perlu dibaca dalam konteks industri dan siklus bisnis perusahaan. Current ratio yang “rendah” di industri ritel mungkin masih sangat sehat, sementara angka yang sama di industri properti bisa jadi sinyal peringatan.

 

Studi Kasus Nyata

Kasus 1: Garuda Indonesia — Ketika Likuiditas Jebol

Garuda Indonesia adalah salah satu contoh paling dramatis tentang apa yang terjadi ketika treasury management tidak berjalan semestinya. Maskapai pelat merah ini menghadapi krisis likuiditas akut pada 2021, dengan total utang yang membengkak hingga miliaran dolar, sementara pendapatan terjun bebas akibat pandemi.

Masalahnya bukan hanya pada pandemi sebagai kejadian di luar kendali. Jauh sebelum itu, struktur kontrak leasing pesawat yang sangat tidak menguntungkan sudah menjadi bom waktu — komitmen pembayaran jangka panjang yang jauh melebihi kapasitas kas dalam berbagai skenario, termasuk skenario penurunan pendapatan. Treasury management yang baik seharusnya sudah mengidentifikasi risiko ini jauh lebih awal, dan menyiapkan skenario mitigasinya.

Ketika akhirnya Garuda harus mengajukan PKPU ke Pengadilan Niaga pada akhir 2021, langkah pertama yang dilakukan adalah restrukturisasi agresif dari sisi kewajiban: renegosiasi kontrak leasing, pengurangan armada, dan negosiasi intensif dengan para kreditur. Semua ini adalah pekerjaan fund raising dan cash management yang dikerjakan dalam kondisi darurat — jauh lebih mahal, baik secara finansial maupun reputasional, dibandingkan jika dilakukan secara proaktif bertahun-tahun sebelumnya.

Garuda akhirnya berhasil keluar dari PKPU pada 2022 dan mulai membangun kembali struktur keuangannya secara lebih sehat. Pelajaran dari kasus ini cukup terang: treasury management yang proaktif dan berbasis skenario bisa mendeteksi ancaman jauh sebelum ia benar-benar meledak.

Kasus 2: Perusahaan Manufaktur — Investasi Dana Idle yang Tidak Tepat Tenor

Sebuah perusahaan manufaktur skala menengah pernah mengalami situasi yang menarik. Di akhir kuartal ketiga, mereka memiliki surplus kas yang cukup besar dan menganggur di rekening giro berbunga rendah. Manajer keuangannya, tanpa koordinasi yang cukup dengan direksi dan tim operasional, memutuskan untuk menempatkan seluruh surplus tersebut dalam obligasi korporasi bertenor tiga tahun yang menawarkan kupon menarik.

Masalah muncul enam bulan kemudian. Perusahaan mendapat order besar dari pelanggan ekspor yang membutuhkan tambahan modal kerja segera. Karena dana sudah “terkunci” dalam obligasi yang belum jatuh tempo, mereka terpaksa mengambil kredit perbankan dengan bunga yang jauh lebih tinggi dari return obligasi tersebut.

Hasilnya bukannya menguntungkan — perusahaan justru menanggung biaya ekstra yang seharusnya bisa dihindari. Kasus ini mencerminkan dengan presisi pentingnya faktor kedua dalam investment management: kecocokan antara jatuh tempo investasi dan proyeksi kebutuhan kas perusahaan. Dana perusahaan bukan dana pribadi yang bisa ditempatkan sembarangan — setiap keputusan investasi harus mempertimbangkan kapan dan untuk apa dana itu akan kembali dibutuhkan.

Kasus 3: Usaha Katering — Working Capital yang Tidak Terkelola

Di level yang lebih kecil, prinsip treasury management tetap berlaku — bahkan mungkin lebih terasa dampaknya karena cadangan yang lebih tipis. Sebuah usaha katering dengan omzet yang cukup besar pernah hampir tutup bukan karena kekurangan order, tapi karena arus kas yang kacau.

Mereka menerima order dan mengerjakan katering untuk acara-acara korporat besar, dengan pembayaran yang baru diterima 30-60 hari setelah acara selesai. Sementara itu, bahan baku dan ongkos produksi harus dibayar hampir tunai. Piutang terus menumpuk, tapi kas kosong. Order makin banyak, tapi justru makin pusing.

Ini adalah masalah working capital klasik: DSO yang terlalu panjang tidak diimbangi dengan DPO yang memadai dari sisi supplier. Solusinya ternyata tidak terlalu rumit, tapi membutuhkan disiplin: negosiasi ulang terms pembayaran dengan pelanggan korporat (meminta uang muka 30-50%), memperpanjang terms pembayaran ke supplier bahan baku melalui hubungan yang sudah terbangun, dan membuat proyeksi mingguan arus kas agar kebutuhan bridging loan bisa diantisipasi lebih awal.

Dalam tiga bulan, situasi keuangan bisnis ini berubah signifikan. Bukan karena omzetnya naik, tapi karena pengelolaan modal kerjanya membaik. Ini yang sering luput dari perhatian pemilik bisnis kecil: pertumbuhan tanpa manajemen kas yang baik justru bisa jadi bencana.

 

Perbandingan: Sumber Dana dalam Fund Raising

Sumber Dana Keunggulan Keterbatasan Cocok untuk
Kredit Modal Kerja Bank Proses relatif cepat, fleksibel Bunga, agunan, tenor terbatas Kebutuhan likuiditas jangka pendek
Kredit Investasi Bank Tenor panjang, bunga terstruktur Persyaratan agunan ketat Pembelian aset atau ekspansi terbatas
Obligasi Korporasi Tenor panjang, tanpa agunan properti Proses panjang, butuh rating Perusahaan skala menengah-besar
Sukuk Alternatif syariah, basis investor luas Struktur lebih kompleks Perusahaan dengan kebutuhan syariah compliance
Investor Strategis Bawa nilai tambah selain modal Dilusi kepemilikan Startup atau perusahaan yang butuh mitra bisnis
Pinjaman Antar Grup Cepat, biaya lebih rendah Terbatas pada grup yang solid Perusahaan dalam grup usaha

 

Penutup

Treasury management bukan pekerjaan yang glamour. Tidak ada yang tepuk tangan ketika tim treasury berhasil memastikan pembayaran gaji bulan ini berjalan lancar, atau ketika investasi dana idle menghasilkan return optimal dari deposito yang jatuh tempo tepat waktu. Tapi ketika fungsi ini gagal — seperti yang terjadi di berbagai kasus yang kita bahas di atas — dampaknya dirasakan oleh seluruh perusahaan.

Empat tugas utamanya — mengelola modal kerja, mengelola kas, mengelola investasi, dan penggalangan dana — saling terkait dan harus dijalankan secara terintegrasi. Kegagalan di satu area akan merambat ke area lainnya, dan pada akhirnya memengaruhi kemampuan perusahaan untuk beroperasi dan tumbuh.

Bagi perusahaan yang ingin membangun fungsi treasury yang solid, langkah paling praktis yang bisa segera dilakukan adalah: pastikan ada visibilitas penuh terhadap posisi kas, bangun proyeksi arus kas secara rutin — bahkan yang sederhana sekalipun lebih baik dari tidak ada sama sekali — dan jangan menunggu krisis untuk mulai memikirkan sumber pendanaan alternatif. Karena sumber dana terbaik selalu lebih mudah didapatkan saat perusahaan sedang sehat, bukan saat sedang terpuruk.

Ingin memahami lebih dalam tentang Treasury Management dan cara menerapkannya di industri keuangan? FS Institute menyediakan program pelatihan Treasury yang dirancang untuk praktisi, mulai dari Treasury for Non-Dealer hingga Advanced Treasury Management. Lihat jadwal program di sini.

Training TREASURY

FAQ

Apa perbedaan treasury management dengan manajemen keuangan secara umum?

Manajemen keuangan adalah lingkup yang lebih luas — mencakup perencanaan keuangan, pelaporan, akuntansi, pajak, hingga analisis investasi jangka panjang. Treasury management adalah bagian spesifik di dalamnya yang fokus pada likuiditas, arus kas, dan pendanaan. Kalau manajemen keuangan adalah dokter umum, treasury management adalah spesialis jantung — tugasnya sangat spesifik tapi vitalnya tidak diragukan.

Apakah treasury management hanya relevan untuk perusahaan besar?

Sama sekali tidak. Prinsip-prinsipnya berlaku untuk bisnis dari skala apapun. UMKM yang tidak mengelola modal kerja dengan baik bisa gulung tikar meski penjualannya bagus — kasus katering di atas adalah contoh nyatanya. Yang membedakan hanya kompleksitas dan formalitas sistemnya. Perusahaan besar punya tim treasury khusus dengan software canggih; UMKM bisa mulai dari spreadsheet sederhana yang diisi dan dianalisis secara konsisten setiap minggu.

Bagaimana treasury management menentukan instrumen investasi yang tepat untuk dana idle?

Keputusan ini tidak bisa diambil hanya berdasarkan return yang ditawarkan. Tim treasury harus menilai tiga hal sekaligus: seberapa besar return dibandingkan cost of fund perusahaan, kapan dana itu akan kembali dibutuhkan untuk menentukan tenor yang sesuai, dan seberapa besar toleransi risiko yang ditetapkan manajemen. Instrumen seperti deposito atau reksa dana pasar uang cocok untuk dana yang akan digunakan dalam waktu dekat, sementara obligasi atau SBN bertenor lebih panjang cocok untuk dana yang benar-benar tidak akan terpakai dalam waktu lama.

Apa yang dimaksud dengan penggalangan dana dalam konteks perusahaan yang sudah stabil?

Fund raising bukan hanya dilakukan saat perusahaan dalam kondisi darurat. Perusahaan yang sehat dan profitable pun melakukan penggalangan dana — untuk mendanai ekspansi, akuisisi, atau proyek strategis yang nilainya melebihi kapasitas kas internal. Dalam kondisi seperti ini, treasury manager berperan untuk mendapatkan sumber pendanaan dengan syarat dan biaya yang paling menguntungkan. Justru perusahaan yang sehat memiliki posisi tawar lebih kuat dalam negosiasi, sehingga bisa mendapat terms yang lebih baik.

Apa risiko terbesar dalam cash management?

Risiko terbesarnya adalah kesalahan dalam proyeksi arus kas — terlalu optimis dalam memperkirakan penerimaan, atau terlalu longgar dalam memperkirakan pengeluaran. Ketika proyeksi meleset jauh dari realisasi, perusahaan bisa mendadak kekurangan likuiditas di saat yang paling tidak tepat. Itulah mengapa tim treasury yang baik selalu membuat beberapa skenario: best case, base case, dan worst case. Kemudian menyiapkan cadangan likuiditas atau fasilitas kredit yang belum digunakan sebagai jaring pengaman.

Seberapa sering tim treasury harus memperbarui proyeksi arus kas?

Frekuensi idealnya bergantung pada volatilitas bisnis masing-masing. Untuk bisnis dengan pola arus kas yang relatif stabil, review bulanan sudah cukup dengan update mingguan untuk angka-angka kunci. Untuk bisnis dengan fluktuasi tinggi — seperti ritel musiman atau konstruksi yang bergantung pada termin proyek — proyeksi perlu diperbarui lebih sering, bahkan mingguan. Yang terpenting adalah disiplin dalam prosesnya. Bukan soal seberapa canggih modelnya, tapi seberapa konsisten tim memprosesnya.

Bagaimana hubungan antara treasury management dan manajemen risiko?

Keduanya tidak bisa dipisahkan sepenuhnya. Treasury management yang baik selalu mempertimbangkan risiko — risiko likuiditas, risiko nilai tukar untuk perusahaan dengan transaksi valas, risiko suku bunga, dan risiko kredit dari mitra bisnis. Di perusahaan besar, treasury dan risk management biasanya berkoordinasi erat. Dalam beberapa struktur organisasi, keduanya bahkan berada di bawah satu atap, dipimpin oleh Chief Financial Risk Officer atau posisi serupa.

Apa tanda-tanda bahwa treasury management sebuah perusahaan berjalan buruk?

Ada beberapa sinyal yang perlu diwaspadai: sering terjadi keterlambatan pembayaran ke supplier meski penjualan bagus, ketergantungan terlalu tinggi pada cerukan (overdraft) atau pinjaman jangka pendek untuk kebutuhan rutin, banyak dana idle yang tidak diinvestasikan padahal bisa memberikan return, dan manajemen yang tidak memiliki visibilitas real-time terhadap posisi kas. Jika beberapa kondisi ini terjadi bersamaan, sudah saatnya dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap fungsi treasury — sebelum ada yang lebih serius.

Bisakah treasury management dioutsource ke pihak luar?

Bisa, dan ini cukup umum dilakukan oleh perusahaan skala menengah yang belum memiliki tim internal yang memadai. Beberapa konsultan keuangan atau perusahaan jasa treasury menyediakan layanan managed treasury, mulai dari pengelolaan kas, pembuatan proyeksi, hingga pendampingan dalam fund raising. Namun perlu diingat bahwa outsourcing fungsi ini tidak berarti manajemen bisa lepas tangan sepenuhnya — pemahaman atas posisi likuiditas perusahaan tetap harus dimiliki oleh internal.

 

 

Share Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.